Malas kerap kali dikonotasikan dengan hal negatif. Sifat malas yang ada pada diri manusia, rasanya jarang saya membaca sebuah tulisan yang mengulas sifat malas dari sisi berbeda. . Sampai akhirnya saya membaca sebuah buku yang berjudul “Berdamai dengan rasa malas” karya Munita Yeni.
Pandai Mengelola Emosi
Setiap malam, setelah selesai menulis rasanya ingin langsung rebahan saja. Rebahan dan lanjut tidur. Enak kaan langsung istirahat dan tidur sampai pagi.
Tapi,,,,saat yang sama saya menengok dapur dan kelihatan deh ada piring menumpuk bekas makan seharian. Duuh, kalau saya mengikuti perasaan sendiri, inginnya yaa ntar aja deh mencuci piring dan beberes dapurnya besok aja sekalian.
Ada perasaan yang menuntun saya untuk mengajak langsung rebahan saja, tapi di sisi lainnya ada satu kesadaran bahwa saya tidak boleh menunda pekerjaan. Pada saat urgen seperti ini, mengelola emosi yang baik sangat diperlukan agar saya bisa memilih keputusan tepat.
Terus bagaimana dengan saya? Meski seringnya adalah mencuci piring dan beberes dulu sebelum tidur tapi terkadang masih ada sih satu dua kali saya skip hehehe,,,,biasanya ini terjadi jika saya capeek sekali.
“Mengelola emosi itu sebuah keterampilan yang perlu kita miliki untuk perasaan enggan yang muncul karena mengelola emosi erat kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk melepaskan diri dari perasaan emas, khawatir, marah dan perasaan sedih yang bisa saja menjadi penguasa atas diri kita” Halaman 13.
Saya tertarik dengan cara penulis menyajikan bahasan awal pada buku ini. Penulis tidak langsung membahas tentang apa itu malas, definisi malas dan sebagainya. Tapi buku ini mengawali dengan bahasan kecerdasan emosi. Sekilas seperti tidak nyambung. Tapi ternyata sangat berkaitan.
Kecerdasan emosi ternyata memberi kemampuan pada diri manusia untuk bisa menemukan motivasi pada dirinya sendiri. Semakin sedikit perasaan negatif yang disebabkan oleh kepandaian mengelola emosi akan semakin produktif. Sehingga seseorang dengan kecerdasan emosi yang baik akan cenderung menjauhi rasa malas. That’s the point…..nice,,,,bagus banget insight nya nih.
Keluarga Pilar Pertama Anak Mengenal Emosi
Saya mengenal seorang anak, sebut saja dia Dimas. Tentu saja bukan nama sebenarnya. Umurnya lima belas tahun, tapi ternyata dia belum pernah bersentuhan dengan semua pekerjaan rumah bahkan untuk keperluan dirinya sendiri sekalipun. Boro-boro mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai, sekadar untuk merapikan tempat tidur nya sendiri pun dia tidak pernah melakukannya.
Semua keperluannya sudah disiapkan oleh seorang pembantu khusus untuknya. Dia siap melayani Dimas 24/7. Waaw,,,sekilas terlihat seperti menyenangkan. Padahal dengan perlakuan seperti itu orang tua sedang menyiapkan bom waktu.
Dimas tumbuh menjadi seorang manusia yang tidak bisa tegas dan manja akhirnya malas mengerjakan sesuatu yang dianggap olehnya berat.
Orang tua adalah orang pertama yang mengajarkan tentang emosi kepada anak. Sejak masa bayi , seorang manusia sudah belajar bagaimana mengelola emosi dari sikap ayah ibu memperlakukan anaknya. Terlalu memanjakan anak akan menumbuhkan sifat malas pada anak.
Seseorang yang tumbuh dengan perlindungan berlebihan akan cenderung mencari pembenaran dan pembelaan dari keputusan yang dibuatnya.
“Oleh karena terlalu mencintai dan menyayangi diri sendiri, mereka menggenggam tangan anak terlalu erat, tidak menyadari bahwa itu sudah melukai tangan,, mungkin ada beberapa pembuluh darah di tangan anak pecah” halaman 30-31
Angkat topi saya dengan pembahasan buku ini tentang rasa malas. Setelah poin pertama saya dapatkan, sekarang saya bisa memahami poin kedua tentang mengapa seseorang memiliki sifat malas.
Pandangan Tentang Sikap Malas
Ada pepatah yang mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang, tapi coba kita ubah sedikit yaa kalimatnya yaitu tak kenal maka tak tuntas. Koq bisa? Iyaa jadi begini konsepnya, saat saya mendengar kata malas. Saya tahu bahwa malas itu tidak baik. Terus bagaimana saya bisa menghindari sifat malas jika saya tak mengenalnya dengan baik.
Jadi, mana bisa saya tahu dan mencari titik terbaik dalam mengatasi rasa malas tanpa saya mengenali apa itu malas?? Apa kesukaannya dan apa kelemahannya? Mengapa sih malas ini betah banget tinggal di tubuh saya….
Buku ini mengupas tindakan apa saja yang disukai oleh sikap malas. Salah satunya adalah menangis. Terus apalagi? Yuuk baca tuntas sendiri yaa bukunya. Seru lho….
Tapi ada juga sikap yang dibenci oleh rasa malas, yaitu menjadi diri sendiri. Saat saya hidup di waktu milik sendiri tanpa melamun apalagi membayangkan saya hidup di waktu orang lain maka saya akan menjadi pribadi produktif. Menjadi diri sendiri adalah satu cara untuk mencintai diri sendiri.

Berteman Dengan Rasa Malas
Sikap bertanggung jawab terhadap segala kegiatan yang saya lakukan akan memberi banyak kebebasan. Seiring dengan hal tersebut, akan semakin membebaskan diri pada rasa sikap malas. Menunda pekerjaan adalah bentuk pelarian dari rasa tanggung jawab.
“Semakin bertanggung jawab, maka semakin bebas” Franz Magnis Suseno. Halaman 113
Temani rasa malas dengan menyalakan semangat hidupmu, dia akan bermetamorfosis menjadi sebuah kepribadian penuh optimis. Saya akan membuka pintu-pintu yang akan mengantarkan diri menjadi manusia seutuhnya.
Beberapa kegiatan yang bisa menemani rasa malasmu seperti tidur nyenyak di malam hari. Bukan tidur sekadar tidur tapi latih tubuh untuk menjalani tidur yang benar. Mulai dari memilih jam tidur, ritual sebelum tidur yang harus saya lakukan seperti menggosok gigi, mencuci muka dan salat Isya. Ingat jangan tidur sebelum salat Isya. Selain itu luangkan waktu untuk berdoa dan meditasi.
Setelah membaca buku ini saya berhasil menemani rasa malas dengan ritual bangun pagi lebih awal. Hingga akhirnya malas berteman dengan ritual bangun pagi dan lama-lama saya bisa membebaskan diri dari sifat malas bangun pagi hari.
Saat bangun pagi, saya pun bisa kembali menyusun rencana kegiatan yang akan saya lakukan. Sejak bangun pagi hingga menjelang tidur kembali. Olahraga adalah kegiatan favorit saya. Saya membeli satu treadmill untuk saya berolahraga di rumah. Jadi meskipun agenda pagi menumpuk, saya selalu bisa meluangkan waktu untuk lari pagi di treadmill.
“Memasukkan olahraga pagi ke dalam daftar beberapa hal yang bisa saya lakukan saat bangun pagi baik sekali untuk menjaga mood seharian.” halaman 136
Ada beberapa hal menarik lainnya yang bisa saya lakukan, kamu mau tahu? Baca deh bukunya,,,,kamu akan menemukan banyak hal inspiratif agar bisa berdamai dengan rasa malas.
Penutup
Buku Berdamai dengan rasa malas memberi pesan kepada pembaca bahwa ada sesuatu dalam diri sendiri yang terabaikan. Penulis mengajak kepada pembaca termasuk saya untuk mengijinkan rasa malas adalah bukan sebuah masalah manakala saya tidak menyerah pada rasa malas itu sendiri.

