Mengenal Buku Fiksi Karya Hamka: Sebuah Sinopsis (Bagian 2 )

Buku fiksi karya Hamka

Gimana gimana niih, sudah selesai kan membaca artikel bagian 1 mengenai buku fiksi karya Hamka di tulisan sebelumnya? Naah, kalau sudah selesai yuu mari kita lanjutkan untuk membaca sinopsis karya Hamka berikutnya. Saya akan membahas sinopsis tiga  buku fiksi karya Hamka selanjutnya. 

Buku Fiksi Karya Hamka

Jadi setelah mengupas empat buku fiksi di artikel sebelumnya, ternyata masih ada niih beberapa buku fiksi lainnya dari Hamka ini. Apakah ceritanya masih berlatar ranah minang? Apakah masih berlatar budaya minang? Kira-kira ceritanya sedih lagi gak yaa? Yuuk ah kamu bisa membacanya niih. 

“Sesungguhnya dunia ini tidak pernah mempunyai kecukupan. Jika orang mengejar kekayaan uang, dengan tidak sadar, orang itu telah miskin dalam perkara akhlak.” (Tuan Direktur, halaman 6)

Tuan Direktur

    Karya fenomenal Hamka lainnya adalah Tuan Direktur. Karya Hamka ini dimuat di majalah Pedoman Masyarakat tahun 1939. Berbeda dengan kisah novel Hamka lainnya buku ini mengangkat isu buruh dan majikan dalam ceritanya. Kisah seorang yang awalnya miskin kemudian menjadi kaya tapi memiliki sifat sombong. Si tokoh sombong ini bahkan menamai dirinya sebagai Tuan Direktur. Yuuk simak ringkasan ceritanya.

    Tuan Direktur berkisah tentang seorang pemuda bernama Jazuli yang berasal dari Banjarmasin lalu kemudian dia merantau ke Surabaya.Tapi dia memang benar-benar ulet, rajin dan pantang menyerah sehingga nasib mengubahnya menjadi seorang yang memiliki harta banyak. Namun, kekayaan kemudian merubah perangainya dari semula sederhana, rendah hati dan tidak pilih-pilih dalam berteman menjadi seorang yang sombong, angkuh dan tamak cinta dunia.

    Saat Jazuli ingin mengembangkan bisnisnya, dia berniat membeli tanah milik Haji Yasin. Namun ternyata Haji Yasin tidak ingin menjual tanahnya. Jazuli salah perkiraan, dia berpikir semua orang bisa takluk dengan uang tapi ternyata haji Yasin bergeming. Dia tidak tergiur sedikit pun dengan uangnya Jazuli. Sudah sekali Jazuli mendapatkan tanah yang diinginkannya dari Yasin.

    Haji Yasin adalah sosok sederhana, dermawan, baik hati dan penyayang. Banyak orang sayang dan hormat padanya. Termasuk orang kepercayaan Jazuli yaitu Fauzi. Dia yang awalnya memandang negatif kepada Yasin karena termakan cerita orang dekatnya Jazuli, akhirnya tahu yang sebenarnya tentang Yasin. Bahkan Fauzi jatuh cinta pada Aminah cucunya Haji Yasin.

    Sementara itu, Jazuli alias Tuan Direktur sudah jauuh melenceng. Pegawainya bernama Kadri memberinya masukan-masukan sesat. Jazuli termakan hasutannya, akhirnya Jazuli memecat pegawai-pegawainya yang setia yaitu Fauzi, Haji Samin, Haji nawawi. Jazuli tidak sadar, sebenarnya dia sudah tidak memiliki kekuatan sebab Kadri lah yang menguasai dia sekarang 

    Kadri membuat laporan palsu pada polisi bahwa rumah Haji Yasin adalah markas pergerakan terlarang. Saat polisi menggerebek rumah Haji Yasin kebetulan ada Jazuli disana mau nego tanah. Akhirnya Jazuli pun ikut ditangkap oleh polisi. . Jazuli akhirnya sakit dan depresi tak sanggup menanggung nasib buruk yang menimpanya.

    Makna di balik cerita 

    Banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang bisa kamu ambil dari kisah ini. Manusia tidak boleh memiliki sikap sombong karena hanya akan merugikan dirinya sendiri. Akhlak yang baik lah yang bisa membuat seorang manusia bisa hidup selamat dan menemukan kebahagiaannya.

    Menunggu Beduk Berbunyi

      Buku fiksi karya Hamka yang satu ini tidak setenar karya lainnya seperti Tenggelam kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah yang sudah diangkat ke layar lebar. Tapi ceritanya tidak kalah menarik. Buku ini adalah gabungan dari 2 cerita pendek karya Hamka. Ada 2 cerita di dalamnya yaitu Dijemput Mamak dan menunggu Beduk berbunyi. Kedua kisah pendek ini kemudian disatukan dalam satu buku yang berjudul Menunggu Beduk Berbunyi. 

      Kisah pertama yaitu Dijemput Mamak,bercerita tentang sepasang suami istri Musa dan Ramah yang hidup dalam kemiskinan. Mereka dikaruniai satu anak bernama Fauzi. Keluarga Ramah tidak ingin anak nya hidup dalam kemiskinan sehingga mereka menjemput Ramah dan anaknya agar hidupnya tidak menderita lagi. Perpisahan yang menyakitkan, mereka dipaksa berjauhan karena keinginan keluarga Ramah. 

      Musa mencari nafkah dengan menjajakan jasa perbaikan kasur, namun penghasilan yang tidak pasti setiap harinya membuat pernikahan mereka berada dalam kesulitan. Sebenarnya Ramah bahagia hidup dengan Musa meskipun orang lain melihat mereka kesusahan. Tapi, keputusan keluarga Ramah membuat kebahagiaan mereka terenggut. Mereka terpisah karena keinginan keluarga.

      Cerita kedua berjudul Menunggu Beduk berbunyi. Cerita dalam buku ini seolah ada orang yang bercerita dengan POV orang pertama yaitu Aku. Ya udah saya sebut saja si pencerita yaa. Naah, si pencerita berangkat ke kota Bukittinggi pada tahun 1949 sekitar bulan Agustus dan September. Si pencerita bertemu Yusuf dan karena hujan mereka berteduh di rumah Tuan Syarif. Yusuf tidak mau singgah kesana. Belakangan barulah si pencerita paham bahwa ternyata orang-orang tidak suka padanya karena Tuan Sharif bekerja sebagai pegawai di kantor pemerintahan Belanda. Meskipun peristiwa tersebut sudah lama berlalu, namun masih lekat dalam ingatan masyarakat. 

      Si Pencerita memutuskan untuk menginap di rumah Tuan Sharif. Semalaman mereka berdua berbincang tentang perjalanan hidup Tuan Sharif. Mulai dari zaman Belanda, zaman Jepang. Betapa sebenarnya dia cinta tanah air, hanya saja satu kesalahannya yaitu bekerja di kantor Belnda hingga menjadi sebuah tinta hitam sejarah kelas seumur hidupnya. Semua itu dia lakukan karena terdesak kebutuhan hidup, dia lapar, dia butuh makan. Sepanjang hidupnya Tuan Sharif di cap sebagai federalist bukan Republikan. Sungguh sebuah kehinaan bagi masyarakat Bukittinggi menjadi seornag Federalist.

      Sesak dada Tuan Sharif, dia berkata:

      “Bukankah di republik ini tidak sedikit pengkhianat yang melebihi pengkhianatanku? Siapa yang tidak tahu, bagaimana uang dihamburkan dengan tiada merasa bersalah untuk kepentingan sendiri, untuk kekayaan sendiri. Sedang aku sendiri hanya makan gaji yang jelas dari usahaku yang halal. Alangkah zalimnya dunia. (Menunggu beduk berbunyi; halaman 93)

      Hamka memberi judul cerpen keduanya ini “Menunggu Beduk Berbunyi” adalah sebuah harapan Tuan Sharif yang mengharapkan sebuah kemerdekaan bagi dirinya yang selalu di cap sebagai federalist dia ingin dipandang sebagai Republikan. Seperti merdekanya seorang yang berpuasa saat adzan magrib berkumandang dan akhirnya bisa berbuka puasa. 

      “Adakah negara akan memaafkanku? Bung Karno, Bung Hatta! Tolehkanlah mata Tuan, kepada hamba orang kecil ini.” (Menunggu beduk berbunyi; halaman 116-117)

      Makna di balik Cerita

      Janganlah cepat berprasangka terhadap keputusan yang diambul oleh seseorang. Seperti orang-orang persangkakan kepada Tuan Sharif, hendaklah bertabayun sebelum memberi kesimpulan. Tokoh Aku dalam buku ini memberi sebuah pelajaran tersebut. Dia lebih memilih bersama dengan Tuan Sharif untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang terlihat secara kasat mata belum tentu seperti demikian dengan apa yang tersirat di hati manusia. 

      Di Bawah Lindungan Ka’bah

        Buku fiksi karya Hamka yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah iini terbit pertama kali tahun 1938. Novel klasik terbitan Balai Pustaka yang kala itu masih bernama penerbit Nasional Hindia Belanda.

        Seperti kisah-kisah novel Hamka lainnya, buku Di Bawah Lindungan Ka’bah ini masih ber setting di Minangkabau. Ceritanya sama dengan kisah cinta Hayati dan Zainuddin pada buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yaitu kisah cinta yang tidak direstui karena perbedaan kasta. 

        Buku ini bercerita tentang Hamid dan Zainab yang saling jatuh cinta. Zainab adalah anak Haji Jafar dan mak Asiah. Mereka adalah orang kaya di kampungnya. Akan tetapi kisah cintanya tidak bisa berlanjut karena perbedaan derajat sosial. Hamid dan Zainab pun tidak saling mengungkapkan perasaannya masing-masing, tapi mereka berdua paham akan perasaan cinta masing-masing. 

        Takdir menghendaki umur Haji Jafar tidaklah panjang. Dia meninggal mendahului Mak Asiah dan Zainab putrinya. Mak Asiah kemudian berniat menjodohkan Zainab dengan kemenakan suaminya. Namun, sepertinya Zainab tak menghendaki sehingga Mak Asiah meminta Hamid menyampaikan hal tersebut. Hamid patah hati, meski berat dia meluluskan permintaan Mak Asiah.

        Hamid sedih alang kepalang, kemudian dia pergi ke Mekkah dan lebih memilih mendekatkan diri kepada Allah. Hamid ingin melupakan Zainab dengan terus mendekatkan diri kepada Allah. Sampai akhirnya sebuah kabar dari Zainab sampai padanya melalui seorang teman. Kabar yang mengatakan bahwa Zainab sakit. Hamid hendak pulang untuk meminang Zainab karena ternyata Zainab belum menikah dengan laki-laki pilihan almarhum ayahnya. Setelah saling berkirim surat antara keduanya akhirnya mereka saling yakin dengan perasaannya.

        Namun takdir berkata lain, Zainab jatuh sakit kemudian meninggal dunia. Tidak lama setelah Zainab meninggal, Hamid pun ikut menyusul menghadap sang khalik. Hamid menanggung kesedihan mendalam sejak Zainab pergi meninggalkan dunia. Hamid dimakamkan di Mekkah.

        Makna di Balik Cerita

        Sebuah keputusan yang sangat bijak dari Hamid, dia memilih untuk dekat dengan Allah saat sedih mendera. Hamid terhindar dari perbuatan dosa karena percintaan. Sebuah kisah tentang cinta sejati antara Hamid dan Zainab. 

        Penutup

        Kisah dalam buku fiksi karya Hamka benar-benar bukan hanya sebuah cerita biasa namun dalam setiap kisahnya tersimpan makna yang sangat dalam tentang kehidupan. Banyak kata dan kalimat dari semua buku-bukunya yang bisa kamu jadikan pembelajaran dalam hidup. Hamka sudah membuktikan kepada saya dan pembaca semuanya bahwa dalam setia kisah selalu ada yang bisa dijadikan pembelajaran hidup. Bagaimana , kamu sudah membaca buku fiksi karya Hamka yang mana nih teman-teman? 

        Recommended Articles

        23 Comments

        1. Terus terang saya bukan pencinta fiksi, tapi membaca sinopsis buku Buya Hamka membuat saya tertarik untuk mulai mencintai fiksi

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            Yuuuk baca fiksi…seruu lhoo

        2. Hal menarik dari karya-karya Buya Hamka adalah amat related dengan kehidupan nyata. Kita yang baca jadinya kayak melihat episode kehidupan yang sedang dibahas

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            betul seklai kak Fenni…ceritanya amat sangat related dengan kehidupan nyata dan ada di sekitar kehidupan kita

        3. Artikel yang sangat bagus dan membuka wawasan! Selalu menarik membaca artikelmu, kak. Terima kasih sudah berbagi!

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            sama sama ka

        4. Aku dulu suka baca sastra lama kaya karya Hamka ini. Rasanya tuh banyak belajar, dari ceritanya, bahasanya juga. Mungkin nanti mau cari buku yang lain atau baca ulang buku-bukunya

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            iya kaak hayuu baca ulang karya sastra lamaa

        5. Waktu SMP baca buku-buku karya Hamka itu dari perpustakaan sekolah, jadi udah pada lupa deh kisah detailnya. Tapi diulas disini jadi teringat lagi pastinya. Walaupun tetap ingatan usia setengah abad udah tidak sejernih anak remaja.
          Latar Minangkabau atau Bukittinggi semakin menarik secara saya sedang banyak mencari informasi terkait itu. Sejak anak mondok di sumatera barat apa yang berkaitan dengan ramah minang jadi begitu menarik buat saya. Hahaha…

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            Jelas teh,,,,kan anak tercinta mondok disana yaaa…Gimana pesantrennya aman tapi kan teh? Sumbar banjir dimana mana skrg. Semoga selalu ada dalam lindungan Allah ya teh

        6. Hamka adalah salah seorang penulis yg membuatku takjub. Karya2 itu begitu dalam dan bermakna, dan sebagiannya pasti tersirat yg erat dengan kehidupannya seperti budaya minang juga ada sentuhan religiusnya
          Hingga ga heran banyak rumah produksi yg mengangkat beberapa bukunya lewat film

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            iya betul teh,,,beberapa buku Hamka diangkat ke layar lebar

        7. Aduh sedih banget kisah cinta hamid dan zainab 11 12 sama hayati sama zainuddin. Kalau nggak salah di bawah lindungan Ka’bah juga sudah difilmkan ya?

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            iyaa mba ada filmnya

        8. Sangat menarik, Kak, kalau membahas novel-novel karya Buya Hamka. Karya beliau selalu punya makna yang mendalam. Saya juga sering membaca di aplikasi seperti iPusnas, banyak pilihan buku yang menarik. Tapi kalau untuk fiksi, saya lebih suka menonton film, karena visualisasi cerita dalam film seringkali lebih membawa saya merasakan suasana cerita.

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            iyaa dan buku-buku Hamka itu gak ada yang tebel tebel bangeet,,,,,

        9. Aku belum pernah membaca karya Hamka, meskipun Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk sudah masuk antrian bacaku sejak entah kapan. Rasanya postingan ini akan membuatku benar-benar memulai baca. Aku harus baca part 1 untuk lebih banyak rekomendasi ^^

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            buku Hamka salah satu karya sastra terbaik kalau menurut saya kaak

        10. Wah, seru banget baca lanjutan sinopsis karya Hamka ini. Bahasanya enak diikuti dan bikin kebayang suasana ceritanya. Jadi makin penasaran sama konflik yang bakal muncul selanjutnya

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            iyaa,,ceritanya khas banget

        11. Sebagai orang Minang, salah satu kebanggaan terbesar adalah mengetahui banyak pahlawan dan penulis terkenal berasal dari tanah ini. untuk karya Buya Hamka, saya baru pernah membaca satu bukunya yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, itu karena setelah puas menonton filmnya. Sekarang jadi penasaran membaca buku Menunggu Beduk Berbunyi, karena katanya latar ceritanya di Bukittinggi. Karena saya tinggal di Bukittinggi, jadi penasaran bagaimana penggambaran kota Bukittinggi jaman dulu di karya beliau. Thanks reviewnya kak.

          1. Heni Hikmayani Fauzia
            Heni Hikmayani Fauzia

            sama sama kak

          2. Wah menarik nih! Dari ulasan2 blog ini aku jadi penasaran membaca buku Buya Hamka yang lain. Baru baca tenggelamnya kapal van der wijck deh, liat ulasannya sepertinya buku Buya Hamka kaya makna ya, Buku2nya wajib dibawa nih..

        Leave a Reply

        Your email address will not be published. Required fields are marked *