“Srintil, Perempuan, dan Harga Diri di Tengah Arus Kekuasaan

Ronggeng dukuh paruk

Setelah selesai membaca buku ini, nafas saya tercekat. Rasanya hati sanubari saya bergetar oleh perasaan yang berkecamuk. Saya seolah terbawa ke dalam kisah kehidupan di zaman tahun 1965, saat sang tokoh utama Srintil dan Rasus melalui kisah hidup mereka. 

Novel karya Ahmad Tohari ini termasuk dalam genre novel sejarah. Dengan latar setting tempat di sebuah pedusunan paruk daerah Banyumas. Seorang tokoh utama hidup dalam budaya setempat yang begitu mengagungkan tokoh ronggeng dalam kehidupan masyarakatnya.

Yaa, sebuah Novel yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Sebuah Review buku Ronggeng Dukuh Paruk: Perjalanan cinta Srintil di tengah budaya sosial Pedukuhan Paruk. Saya memiliki buku yang edisi terbitan tahun 2003, jadi bukunya sudah lama yaa. Tapi, sekarang diterbitkan ulang koq oleh Gramedia, jadi kamu bisa membaca edisi cetakan terbarunya juga.

Sinopsis Buku Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Bukan Hanya Sekedar Profesi

    Sebuah kisah di Pedukuhan Paruk tentang seorang perempuan yang bernama Srintil. Kisah Srintil tidak bisa dilepaskan dari kisah masa lalu di pedukuhan Paruk ini. Dukuh Paruk sebuah desa kecil yang hanya terdiri dari 23 rumah sangat menghormati profesi ronggeng. Bagi mereka ronggeng adalah titisan roh. 

    Tokoh-tokoh dalam buku Ronggeng Dukuh Paruk adalah Srintil, Rasus (laki-laki yang dicintai Srintil sepenuh hati), Sakarya (kakek Srintil yang merawatnya sejak bayi), Kartaredja dan istrinya( Sang dukun Ronggeng Dukuh Paruk). 

    Srintil sudah yatim piatu sejak berusia 5 bulan. Ayah dan ibunya adalah penjual tempe bongkrek. Saat itu tahun 1946 ketika sebuah tragedi terjadi. Ada 18 warga Dukuh Paruk meninggal karena keracunan tempe bongkrek termasuk ayah dan ibu Srintil yang ikut memakan tempe. Mereka berdua tadinya hendak membuktikan bahwa tempe mereka aman dan sehat namun ternyata ikut meninggal. 

    Kejadian ini sungguh membekas di semua penduduk Dukuh Paruk. Sejak kejadian tersebut ronggeng mati di Dukuh Paruk. Tidak ada pagelaran ronggeng dan tidak ada satu pun wanita menjadi ronggeng. Ki Secamenggala moyang mereka sepertinya sudah merindukan hadirnya seorang ronggeng disana.

    Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah kisah yang dituturkan oleh Rasus sebagai POV orang pertama. Sebelas tahun kemudian saat Srintil berusia 11 tahun dan Rasus 14 tahun, Srintil tumbuh menjadi seorang Ronggeng yang dipuja bagai dewa. Bahkan wanita di Dukuh Paruk akan sangat bangga jika suaminya menyentuh ronggeng.

    Mereka percaya hal itu sebagai pembuktian jika para suaminya seorang pejantan tangguh. Aneh tapi nyata, begitulah adat istiadat di Dukuh Paruk.Srintil dimandikan di makam Ki Secamenggala sebagai awal ritual yang harus dilaluinya sebagai ronggeng. 

    Bagi mereka ronggeng bukan hanya sekedar pertunjukkan, namun sebuah persembahan untuk roh leluhur yang harus dipertahankan. Mereka percaya keselamatan hidup warga desa akan lestari saat mereka mempertahankan tradisi ini. Penari ronggeng adalah titisan roh leluhur yang harus dihormati. Srintil, takluk pada kuasa budaya di desanya Desa Dukuh Paruk. Indang Ronggeng sudah memilih Srintil, suka atau tidak suka Srintil menjadi ronggeng. 

    Cinta Srintil Pada Rasus

      Rasus pada awalnya begitu mengagumi dan mencintai Srintil. Namun keadaan yang membuatnya menyerahkan Srintil pada sang waktu. Dia tidak sanggup melihat Srintil menjadi ronggeng dan dijamah oleh banyak laki-laki, hati kecilnya memberontak. Biarlah Srintil menjadi ronggeng dan dia pergi meninggalkan Srintil. Rasus pergi meninggalkan Dukuh Paruk menuju Dawuan. 

      Kepergian Rasus menjadi pukulan luar biasa bagi Srintil. Srintil patah hati berat. Bagi Srintil , Rasus adalah pujaan hatinya. Tubuh Srintil boleh dijamah oleh banyak laki-laki tapi hati dan cintanya hanya untuk Rasus. Tak ada satu pun yang tahu, kalau sebenarnya bukan laki-laki yang menemaninya saat Bukak Klambu yang sudah merenggut kegadisan Srintil. 

      Namun, Srintil menyerahkannya pada Rasus sebelum upacara Bukak Klambu tersebut berlangsung. Srintil menyerahkan kegadisannya dengan sepenuh cinta dan keikhlasan pada Rasus. Rasus adalah pemilik hati Srintil sebenarnya. Tubuh boleh dijamah oleh banyak laki-laki namun hatinya setia pada Rasus.  

      Pertemuan Tak Terduga

        Rasus sudah menjadi tentara sekarang. Saat Rasus di Dawuan dia diajak oleh Kapten Lamet menjadi tentara. Rasus bertugas menghalau perampokan yang banyak terjadi di desa-desa pada saat itu. Tak terkecuali di Pedukuhan Paruk tempat Srintil tinggal. Adalah sang waktu yang mempertemukan mereka kembali. Tempat tinggal Kertajaya dan Nyai Kertajaya istrinya menjadi sasaran perampokan. Mereka merampok perhiasan Srintil. 

        Pada saat bersamaan datanglah tentara menyelamatkan Pedukuhan Paruk dari perampokan. Srintil diselamatkan oleh Rasus. Rasus membawa Srintil ke rumah neneknya. Mereka tinggal disana beberapa hari. Srintil serasa hidup kembali, dia melayani Rasus sepenuh hati seperti kepada suaminya sendiri. Entah apa yang terjadi di malam-malam saat mereka bersama karena Srintil begitu bahagia.

        Namun, Rasus memutuskan untuk meninggalkan Srintil. Dia menyerahkan Srintil pada Ronggeng dan Dukuh Paruk. Rasus tidak mungkin menikahi Srintil karena dia seorang ronggeng. Srintil kembali patah hati dengan kepedihan yang berlipat lipat dibandingkan saat dia ditinggal sebelumnya. 

        Srintil dan Keteguhannya

          Sejak saat itu hidup Srintil berubah. Dia bukan lagi ronggeng penurut dan mau saja mengikuti perintah-perintah Nyai Kertaredja. Srintil berubah menjadi sosok wanita lembut namun pemberontak. 

          Dia tidak lagi mengijinkan siapapun menjamah tubuhnya. Dia menyadari ronggeng hanyalah sebuah kamuflase pada sebuah eksploitasi atas dirinya untuk kesenangan Kartaredja sang dukun ronggeng. Ronggeng baginya adalah sebuah dunia prostitusi terselubung. Dan ini yang membuat Rasus mati kutu dengan perasaannya pada Srintil. 

          Kesedihannya berdampak panjang. Srintil mengalami sakit dalam waktu cukup lama. Srintil tidak mau lagi menari, Srintil tidak mau lagi melayani laki-laki yang datang pada Nyi Kertaredja. Sebuah penghinaan maha dahsyat dilontarkan Nyi Kertaredja pada Srintil. 

          “Tobas,,,toblas,,! Kamu ini bagaimana Srintil? Kamu menampik Pak Marsusi. Itu pongah namanya. Kamu memang punya harta sekarang. Tapi jangan lupa anak siapa kamu sebenarnya. Kamu adalah anak Santayib! Orang tuamu tidak lebih dari penjual tempe bongkrek. Bapak dan emakmu mati termakan racun! Kau seorang ronggeng dan Sundal!” (p.152)

          Srintil adalah seorang perempuan biasa, dia punya hati dan perasaan. Nyi Kertaredja dan suaminya benar-benar mengeksploitasi Srintil demi lembaran uang dan harta. Srintil tak mampu melawan, namun akhirnya kesedihan ditinggal Rasus mampu membangkitkan keberaniannya. 

          Saat Badai Itu Datang

            Namun, apalah daya Srintil, dia tidak bisa melawan arus kekuasaan orang-orang yang mengendalikannya atas nama kesakralan roh nenek moyang. Akhirnya Srintil kembali turun ke panggung pertunjukan Ronggeng. Saat itu Srintil padahal sudah pamit pulang ke rumah neneknya bersama Goder anaknya Tampi, bayi yang diasuhnya sejak kecil. 

            Tahun 1964 saat musim kemarau panjang, datang seorang laki-laki bernama Bakar. Dia adalah orang partai dan meminta Srintil menari di acara Agustusan partainya. Namun, ada yang tidak sreg sebenarnya dalam hati Srintil karena kesenian ini tidak boleh disebut ronggeng namun dinamai olehnya sebagai kesenian rakyat dan Pa Bakar melarang Nyai kertaredja membakar kemejan dan sesaji. Sebuah larangan yang sangat melanggar adat leluhur Dukuh Paruk.  

            Pertunjukan ronggeng sudah kehilangan esensinya, yang ada hanyalah sebuah pertunjukan seni bermuatan politik. Dukuh Paruk tak mau dinodai dengan keinginan-keinginan politik. Dari sinilah awal mula hidup Srintil berubah. Dengan Srintil menari di kegiatan partai tersebut, Saat pecah peristiwa G30S PKI Srintil ditahan , dipenjara dengan tuduhan ikut gerakan komunis. Sebuah tuduhan yang membuat hidup Srintil berubah 180 derajat. Saat itu usianya 20 tahun.

            Srintil ditahan selama 2 tahun. Dan selama masa penahanannya Srintil menjadi korban kekerasan seksual para polisi dan tentara yang berkuasa di tahanan. Srintil  jadi pemuas nafsu  mereka. Sungguh malang nasib Srintil. Pengalaman hidup pedih ini menjadi luka dan trauma yang dalam baginya. Hidup memang tak pernah bisa memberi keadilan dan penghormatan kepadanya. Srintil tak berdaya pada kekuasaan yang menelikungnya. Apalah daya dia hanya seorang tahanan wanita. 

            Berbarengan dengan ditahannya Srintil, rumah Pa Bakar dan Desa Dukuh Paruk ada yang membakar. Dukuh Paruk habis dilalap api. 

            Kisah Rasus dan cintanya Kepada Dukuh Paruk

            Saat Srintil sedang menjalani masa tahanan, Rasus yang sudah menjadi tentara memutuskan untuk pulang kampung menengok neneknya. Namun saat menengok neneknya justru yang dia dapati adalah menyaksikan kematiannya. Rasus, akhirnya tahu juga dari kakeknya Srintil yaitu Sukarya bahwa Srintil sedang dipenjara. Kakek Sukarya meminta Rasus untuk mencari Srintil dan menemuinya. 

            Rasus menuruti permintaan Sukarya dan akhirnya dia menemukan Srintil dipenjara di kota Eling-eling. Mereka sempat bertemu namun tak satu patah kata pun terucap dari bibir mereka berdua. Semua kalimat yang hendak diutarakan semuanya hanya berlompatan di kepala tanpa sempat terucapkan. 

            Akhir Kisah Yang Tak Terduga

            Srintil akhirnya keluar penjara dan dia wajib lapor selama 1 tahun. Selepas dari penjara, Srintil tidak berubah tetap cantik dan memesona. Hingga ada beberapa laki-laki yang mendekatinya. Diantaranya Marsusi yang sudah mendekati Srintil dari sejak sebelum dipenjara, Tamir dan Bajus. Bajus inilah laki-laki terakhir yang sempat dekat dengan Srintil. Kebaikan dan sopannya Bajus terhadap Srintil hampir mampu meluluhkan Srintil dan mulai bisa melupakan Rasus. 

            Namun ternyata, dia pun sama saja dengan laki-laki lainnya yang hanya memanfaatkan tubuh Srintil untuk kesenangan dan keuntungannya sendiri. Bajus menumbalkan Srintil kepada bos nya agar projek besarnya mulus bisa dia ambil. Padahal Srintil sudah berteguh hati tak akan mengizinkan laki-laki manapun menjamahnya. Dia ingin menjadi seorang perempuan baik-baik. Dunia ronggeng ingin dia tinggalkan sepenuhnya. 

            Srintil syok meskipun akhirnya dia terhindar dari kejadian terlaknat tersebut. Tapi dia tak sanggup menanggung beratnya beban luka batin dan penderitaan hidup. 

            Pesan yang Terkandung Dalam Buku Ronggeng Dukuh Paruk

            Srintil, perempuan dan harga diri di tengah arus kekuasaan, mungkin itu kata-kata yang pas saya sematkan pada kehidupannya. Srintil sayang, Srintil Malang. Jiwanya tak kuat menanggung semua beban derita yang menghampirinya. Dari kecil dia dipaksa menjadi ronggeng dan harus menuruti kata-kata inangnya.

            Srintil menjelang remaja jatuh hati kepada Rasus namun ditinggalkan begitu saja, Rasus lebih memilih dunia tentara daripada memilih Srintil sebagai teman hidupnya. Sebenarnya Rasus dihadapkan pada 2 pilihan sulit dan akhirnya dia memilih dunia tentara.

            Lalu Srintil dipenjara karena sebuah kesalahan yang tak pernah dia lakukan, saat hendak berteguh hati menjadi perempuan bermartabat dia kembali dipertemukan dengan beberapa laki-laki tak tau diri. Sungguh berat hidup Srintil. 

            Namun, dari buku ini juga saya mendapat banyak pelajaran tentang kesetiaan cinta meski raga banyak terjamah tapi hati tetap terikat pada satu nama. Serang perempuan yang mencoba tegar  dan kuat di tengah terpaan ujian dan cobaan serta cibiran dari masyarakat di sekitarnya terhadap statusnya yang mantan tahanan politik.

            Usaha kerasnya yang ingin melepaskan diri dari kehidupan ronggeng yang sangat membebani dirinya. Keteguhannya menolak dan menghindar dari godaan laki-laki kurang ajar. Srintil yang gagah berani menyuarakan prinsip prinsip hidupnya dan membela Dukuh Paruk saat masa genting tahun 1965 itu datang. 

            Srintil ingin menjadi seorang perempuan kebanyakan, inilah yang ingin digapai oleh Srintil sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya. (p.327)

            Maka tugas seorang istri lebih mulia daripada tugas seorang ronggeng. (p.328)

            Penutup

            Bagaimana Akhir kisah hidup Srintil? Akan kah dia menemukan kebahagiaan? Apakah Rasus akan kembali untuk menyambut cintanya? Apakah sebenarnya Rasus mencintai Srintil? Yuuk temukan jawabannya di buku Ronggeng Dukuh Paruk, jangan lupa membaca bukunya yaa. Seruuu abis…

            Recommended Articles

            38 Comments

            1. Aku baca buku ini lamaa banget kayaknya waktu SMP pelajaran Bhs Indonesia, hehe.. jadi agak lupa2 ingat karena dari pov remajaku dulu, ceritanya terlalu berat dan getir. Sungguh beban kehidupan dewasa yang harus ditanggung Srintil di usia belasan tahun. Cape banget sebenarnya tahu fakta bahwa budaya seringkali membelenggu wanita dan menempatkannya sebagai objek hiburan.

              Di luar daripada itu, buku Ahmad Tohari ini memang karya sastra legendaris, yang mau baca ulang aja males soalnya fontnya kecil-kecil dan rapat, hehehee.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Awalnya juga saya mbosen mba,,,tapi eh lama lama koq seruuuu

            2. Baru baca dari sini aja udah ngerasa getir banget liat hidup Srintil, apalagi kalo baca bukunya.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                iyaa kaak sediiih bangeet..asli sediiih

            3. Miris banget nasibnya Srintil ya Mba. Duh ngebayangain kalau dia hanyalah korban keadaan, bukan maunya jadi ronggeng. Sedih banget cintanya tidak bisa berlanjut pada Rasus. Laki-laki memang ya, duh kesel jadinya. Hehe … Saya jadi ikut larut baca reviewnya aja, gimana kalau baca bukunya langsung ini.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Rasus tuh terlambat ,,,,ahh pokoknya nano nano deh baca buku ini

            4. Membaca urusan ini seperti membaca saat-saat penting di dalam buku sehingga saya tertarik untuk ikut membaca buku tentang srintil ini dan memang entah kenapa ceritanya agak familiar ternyata pernah difilmkan yang main Oka Antara sepertinya kalau versi buku lebih menarik karena imajinasi kita ikut bermain

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Iyaa pernah difilmkan judulnya Penari kaak,,,tapi jujur saya lebih suka baca bukunyaa

            5. Aku sudah baca tapi lihat ulasannya jadi pengen baca ulang coba ah cari di Ipusnas.. edisi cover barunya cakep.. mupeng deh.. luar biasa ya Ahmad Tohari ini..

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Apiiik sekali Ahmad Tohari menulis cerita Ronggeng Dukuh Paruk ini, luar biasa

            6. Duh, nggak sanggup membayangkan gimana sulitnya hidup Srintil. Terutama semenjak dia dinobatkan jadi ronggeng. Ternyata bukan isu belaka, Ronggeng jadi ajang prostitusi terselubung, sangat mengerikan sekali.

              Malang nian nasibnya, cantik mempesona tetapi malah disalah artikan sama lelaki hidung belang. Sampai ke masa di penjara pun harus menahan pil pahit lagi dan lagi 😭😭😭

              Nangis aku bacanya dan bayangin endingnya. Buku novel berlatar sejarah memang penuh kengerian dan fakta yang aduh bikin istighfar.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Asli mba Lala,,,,saya nangis abis beres baca buku

            7. Kisah Srintil selalu menggugah karena menggambarkan posisi perempuan yang sering terjepit oleh tradisi dan kekuasaan. Meski hidupnya penuh tekanan, ia tetap punya keberanian untuk mempertahankan jati diri dan harga dirinya sendiri.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Iya betuul Srintil itu kuat semangaat tapi tetap kalah oleh kekuasaan

            8. Karya ini cukup terkenal, ya mbak, sampai diterbitkan ulang. Kapan hari ada temen bahas juga nih di X. Aku belum baca nih, belum punya bukunya, masukin wishlist ah bjuat dibaca nanti2.
              Dulu tu aku mengira ada hubungannya sama mistis2 eh ternyata lebih erat ke sosial hingga politik yaa. Di mana karakter utamanya tidak mendapatkan keadilan di negeri ini.
              Nggak menyangka juga yang namanya keseniah diajdikan sebuah alat prostitusi. Tapi keknya emang ini berdasarkan kisah sebenarnya, krn tak jarang penari di masa lalu diidentikkan dengan wanita penghibur..
              Penasaran sama endingnya deh, semoag Mbak Srintil bisa dapat kehidupan lebih baik dan akhirnya bisa bersama orang yang dicintainya. Tapi aku kok aku takut plot twist =))

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Endingnya Open ending mba,

            9. Sepanjang baca ini aku kayak familiar banget sama nama Srintil ini, ternyata betul saja kalau kisah di buku ini rupanya sudah difilmkan yaa. Tapi pasti beda sih pengalaman membaca langsung dari buku kayak gini. Kalau baca bukunya, semua gambaran itu ada di imajinasi kita dan sangat bisa berbeda satu orang dan lainnya.

              Oiya, baca kisahnya Srintil ini aku kok kasihan ya, huhuhu. Srintil serasa gak ada pilihan lain selain jadi Ronggeng karena memang budaya daerah situ ya begitu, Ronggeng itu sudah tradisi dan selalu dilestarikan. Tapi setuju sama Srintil, kok Ronggeng ini jadi kayak eksploitasi badannya dalam bungkusan kata tradisi, hiks.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Iya kasiaan banget gak ada ppilihan hidup selain menjadi ronggeng..duh Srintil malang nian nasibmu

            10. Kayaknya daku pernah baca ulasan juga tentang Srintil. Hanya aja lupa² ingat, apakah itu tentang filmnya atau bukunya.
              Unik juga kisahnya ya Kak Hen. Terlebih ada filosofi dan budaya yang terselip di dalamnya.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Iya kak fenni,,,ini novel sejarah budaya

            11. Jujur, baca kisah Srintil di ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ itu memang bikin emosi campur aduk ya. Berat banget perjuangan Srintil sebagai perempuan yang terperangkap adat dan kekuasaan. Pelajaran tentang harga diri dan kesetiaan cintanya pada Rasus itu menusuk banget. Jadi makin penasaran sama akhir kisahnya yang belum terungkap

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                hehe…biar baca bukunya pa,,,jadi ketahuan akhirnya

            12. Buku ini sudah lama masuk dalam readlistku mbak. Karena topiknya tuh sama kayak salah satu novel yang ON Gong kubaca punya Y.B Mangunwijaya. Kisah Srintil ini ngena banget, apalagi kalau aku baca cerita Srintil ini, aku malah bayangin pas masa-masa VOC gitu. Wkwkwkw… Dan ini bikin aku jadi gimana gitu ya.. Pengen segera cek out bukunya.. 😀

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                cuzz mba ,,,kebetulan saya punya yang cetakan lamaa

            13. Aku pernah baca bukunya waktu SMA atau kuliah gitu, tapi sudah lupa ceritanya. Nah baca sinopsis yang mbak tulis jadi agak-agak inget. Kasihan nasib Srintil.

              Btw nama tokoh ini mengingatkan kalau dulu sama saudara-saudara kadang diriku dipanggil Srintil karena namaku ada unsur “Sri”-nya hahaha…

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                hehe…jadi inget deh yaa sama panggilan masa kecil

            14. Seingatku ini pernah difilmkan ya? Daku pernah baca juga buku Ronggeng Dukuh paruk tapi udah lama banget, lebih dari 10 tahun lalu. Jadi pengen baca lagi deh.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Hayu mba Avi baca ulang lagi

            15. ini kayaknya dah diangkat jadi film layar lebar kann mba
              judulnya SANG PENARI.
              Yg main Prisca dan Oka Antara.
              memang ceritanya bikin getirrr banget ya

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                iyaa,,,betul

            16. Nama Srintil mengingatkan saya,.ada orang tua yang kalau nama anaknya Sri,dipanggil Srintil hehehe.
              Tapi ngenes sekali hidup Srintil. Walau seorang ronggeng, dia tetap kukuh teguh menjaga kehormatannya. Hanya sayang Radus tak tahu. Padahal cinta Srintil hanya pada Radus. Namun saya tetap penasaran dengan endingnya. Karena kalau sudah jodoh dan dibuka jalannya, maka cinta Srintil dan Radus akan bersatu dan bahagia.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Akhirnya open ending pa,,,,

            17. Aku ada bukunya, dan udh baca ini lamaaaaaa. Jadi jujur lupa jalan ceritanya mbak. Cuma aku masih ingat buku ini bagus. Sekali baca, aku ga bisa stop sampai tamat. Krn memang bikin penasaran kan Ama nasib srintil.

              Jadi pengen baca ulang deh. Kalo ga salah udah dibuat film juga kan yaaa. Prisia Nasution yg main.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                iya betul kak Fanny…ada filmnya

            18. Ulasannya epic, larut membacanya. Aku-pun getir membaca bagaimana sejatinya kehormatan Srintil diberikan untuk yang di cintainya. Tetapi Rasus melihat dari sisi raga saja. Ironi seorang penari. Jadi ingat masa remaja dulu, pernah diminta jadi penari, tetapi karena sering di label tidak baik, jadinya tidak diizinkan orang tua.

              Tulisan berlatar masa zaman dulu, terbayang sekali bagaimana perempuan sering hanya dilihat sebagai “objek”, apalagi latar Srintil tanpa orang tua. Sebenarnya kisah seperti ini masih ada dalam zaman modern, tapi dalam bentuk berbeda. Menurutku, dari ulasan ini, buku ini perlu di baca, untuk lebih mengerti bagaimana kehidupan seorang penari kadang tidak punya hak atas dirinya.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                Iya ka Niek,,,,saya tuh aduuh ngeneees banget membaca kisah Srintil,,,,ingin berusaha kuat tapi akhirnya ambruk juga

            19. Ini yang difilmkan jadi Sang Penari itu kan Kak, aku belum baca bukunya. Pengen banget nih baca versi bukunya. Temenku bilang Ahmad Tohari bagus. Iya aku meski nggak tinggal di Banyumas tapi emang seingatku pas jaman kecil masih penari tapi bukan Ronggeng melainkan Ledek, kalau aroma dituri itu emang kaya kentel gitu nggak sih di era dulu. Bukunya keliatan banget cetakan lawas, kertasnya terlihat berbeda.

              1. Heni Hikmayani Fauzia
                Heni Hikmayani Fauzia

                iyaa mba Ire,,,ini buku yang saya punya memang udah lamaa, buku lamaa…

            Leave a Reply

            Your email address will not be published. Required fields are marked *