Saat saya memegang dan menimang sebuah buku, ada rasa penasaran yang menyelimuti perasaan. Tertulis dalam sampul buku sebuah tulisan:
“The Book of Ikigai: Untuk hidup seimbang, lebih bahagia dan panjang umur”
Mmmmhhh,,,sepertinya sebuah buku yang bagus. Saya pun penasaran apa yang akan dikupas di dalam buku ini. Sebenarnya, sudah lama saya mendengar kata Ikigai, baik itu di media sosial, televisi atau artikel-artikel populer yang pernah saya baca. Namun, hanya sekilas-sekilas saja. Jadi saat ada buku ini digenggaman, maka saya putuskan untuk membacanya.
Mengenal Arti Ikigai
Ikigai berasal dari dua kata harfiah yaitu Iki dan gai. Iki adalah hidup dan Gai adalah alasan. Jadi kalau diterjemahkan secara hafiah ikigai itu adalah alasan hidup. Bagi orang Jepang konsep ini memiliki makna luas sekali. Ikigai bisa diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi, hal kecil maupun hal besar.
Ikigai tidak harus berkonotasi dengan kata sukses atau pencapaian besar dalam hidup. Bahkan sesuatu yang mungkin orang lain memandangnya sebagai hal biasa bisa saja bagi diri sendiri merupakan sebuah ikigai. Konsep ini sangat personal, tidak bisa disamaratakan pada semua individu dan terbuka bagi setiap individu.
“Ikigai adalah istilah jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan.” Halaman 6: The Book of Ikigai.
Ikigai adalah tentang menemukan, menjelaskan dan menghargai kesenangan-kesenangan hidup yang memiliki arti bagi anda.” halaman 17

Lima Pilar
Memulai dari hal kecil
Penulis buku The Book of Ikigai memberi sebuah contoh kegiatan dari pilar pertama Ikigai yaitu aktivitas bangun pagi. Bangun pagi adalah sebuah ritual hal kecil namun memberi dampak besar. Saat kamu memberikan jam istirahat tidur yang cukup pada tubuh, maka bangun di pagi akan memberikan semangat memulai kehidupan.
Ikigai dari kegiatan rutinitas bangun pagi akan membuat kehidupan kita menjadi penuh makna dan penuh semangat. Orang Jepang selalu memberi penghargaan yang tinggi kepada pagi sebab mereka menyembah matahari sehingga memberi penghargaan tinggi terhadap terbitnya matahari. Bangun pagi dan lebih pagi sebelum matahari terbit adalah sebuah penghormatan.
Saya sendiri sebagai seorang muslim, bangun di pagi hari adalah sebuah keutamaan. Selaras dengan pilar Ikigai. Saat seorang muslim melaksanakan salat subuh maka keutamaannya adalah dunia dan seisinya. Orang yang rajin bangun pagi akan menjadi manusia produktif.
Ada banyak kegiatan yang bisa saya lakukan di pagi hari, mulai dari salat subuh, membereskan rumah, menyiapkan sarapan, memelihara tanaman dengan menyiramnya, melakukan gerakan kecil dalam olah raga pagi dan tentu saja tidak lupa untuk menyempatkan diri menulis dan membaca. Hal-hal yang saya sebutkan tadi adalah hal-hal kecil yang bisa menjadi sebuah jalan pada ikigai.
Bebaskan dirimu
Pilar Ikigai kedua yaitu bebaskan dirimu berkaitan dengan membebaskan diri dari beban diri, membuka diri terhadap semesta dan seisinya. Jadi pada dasarnya berarti melepaskan diri dari tekanan, ekspektasi, dan batasan yang tidak perlu. Baik yang datang dari diri sendiri maupun dari lingkungan. Maksudnya, seseorang diajak untuk hidup lebih jujur terhadap dirinya sendiri, tidak terus-menerus terikat pada standar orang lain, serta berani menerima diri apa adanya. Kamu harus mampu melepaskan ego diri kamu sendiri. Dengan begitu, kita bisa menemukan apa yang benar-benar membuat kita bahagia dan bermakna, bukan sekadar mengikuti tuntutan sosial.
“Berada dalam kondisi mengalir (flow), terbebas dari beban diri sendiri, akan terlihat pada kualitas hasil kerja.” halaman 80
Bebaskan dirimu dan temukan alasan hidupmu.Dengan hidup mengalir maka manfaatnya akan bisa kamu raih. Kamu tidak memerlukan pengakuan sebagai sumber kebahagiaan, Misal dalam konsep bekerja, maka yang menjadi sumber kesenangan adalah menekuni pekerjaan itu sendiri, menurut penulis buku ini, upah hanya sebagai bonus saja.
Keselarasan dan kesinambungan
Tahukah kamu saat tradisi minum teh di jepang, peralatan minum teh usianya sudah melewati puluhan tahun agar memberi kesan yang tidak terlupakan. Itulah salah satu bentuk keselarasan dan keseimbangan dalam kehidupan nyata. Ikigai adalah sebuah kelestarian hidup.
Atau saat melihat pertandingan sumo, seorang pegulat sumo memiliki semua pilar ikigai termasuk dalam keselarasan dan kesinambungan. Sumo adalah olahraga tradisional, di dalamnya ada banyak hal yang harus dilakukan dan disiapkan. Sumo menjadi penyokong sebuah sistem ekologis.
Apakah kamu bisa menemukan pilar ketiga ini dalam kehidupan pribadimu? Saya sepakat dengan momen minum teh, hal ini saya temukan juga dalam keseharian saya. Saat ibu mewariskan sebuah ranjang tempat tidur. Saya merasa terhubung dengan ibu saya saat tidur di ranjang tersebut setiap hari. Selaras dan seimbang, lestari selalu.
Kegembiraan dari hal-hal kecil
“Tidak ada formula mutlak bagi kebahagiaan, setiap kondisi unik dalam hidup bisa menghadirkan fondasi bagi kebahagiaan, dengan cara uniknya sendiri.” halaman 168
Hadir di tempat dan waktu sekarang
Masih tentang berada dalam kondisi mengalir (flow), itu juga berarti tentang hadir di tempat dan waktu sekarang. Hidup selaras dengan orang lain dan lingkungan adalah elemen penting Ikigai.Mengalir itu berarti selaras dengan apapun yang ada di lingkungan sekitar maupun di dalam diri kamu sendiri.
Menurut buku lain yang membahas tentang Ikigai yaitu Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life, dalam buku tersebut dikatakan bahwa masyarakat Jepang terutama di Okinawa, mereka menjalani hidup dengan ritme yang lebih tenang dan fokus pada aktivitas saat ini, seperti berkebun, berbincang, atau bekerja dengan penuh perhatian. Mereka tidak terburu-buru, sehingga mampu menikmati proses hidup itu sendiri. Hal ini yang membuat mereka lebih bahagia dan panjang umur.
Ken Mogi menekankan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar, tetapi dari kesadaran terhadap pengalaman sederhana yang sedang berlangsung. Dengan hadir sepenuhnya, kita jadi lebih peka terhadap makna hidup kita sendiri.
Keselarasan Konsep Ikigai dengan Al Qur’an. Bagi saya yang seorang muslim, nilai-nilainya selaras dengan pedoman hidup.
Penutup
Inti dari konsep Ikigai adalah menerima diri sendiri. Meskipun konsep Ikigai ini lahir dari budaya masyarakat Jepang tapi kita pun bisa mengaplikasikan konsep Ikigai ini di lingkungan kita sendiri dan pada diri kita sendiri.
Manusia akan selalu bisa menemukan tujuan hidupnya saat memiliki Ikigai. Buku ini dari awal hingga akhir menyajikan contoh-contoh nyata dari keseharian kehidupan masyarakat jepang yang tumbuh dan menjadi pondasi Ikigai.
