Tips Parenting Untuk Anak Dewasa

Parenting untuk anak dewasa

“Maa……..aku gak mau masuk ke kedokteran, aku kan minatnya ke Fakultas Hukum. Kenapa mama maksa siih,,,. Yang mau kuliah itu siapa? Aku  bukan mama” Lhaa……mama menyuruh kamu kuliah di FK itu demi kebaikan kamu lho, enak jadi dokter tuh masa depan cerah.”

Perdebatan diatas pernah saya saksikan saat orang tua bertemu anaknya di sekolah. Akhirnya si ibu dan menangis mengatakan bahwa usia anaknya semakin bertambah kenapa jadi semakin menjauh dan tidak bisa diatur. Dia selalu ingin menang sendiri dan tidak mau diajak ajak lagi pergi bersama. Tampaknya lebih nyaman dan enjoy pergi bersama teman-temannya daripada bersama ayah dan ibunya.

Fenomena ini seringkali terjadi saat para orang tua menghadapi anak yang usianya sudah memasuki masa dewasa awal. Mereka seringkali merasa kesulitan untuk membina hubungan baik dan membangun komunikasi yang lancar. Tapi sebenarnya ada beberapa langkah dan tips yang bisa dilakukan oleh para orang tua kepada anaknya yang sudah memasuki usia dewasa. Masa usia dewasa awal rata-rata di usia 18 atau kelas tiga SMA. 

Saat membaca buku Parenting Your Adult Children karangan Ferlita Sari mata saya seolah terbuka dan mendapat tuntunan bagaimana seharusnya menerapkan gaya pengasuhan kepada mereka. 

Parenting: Tugas Orang Tua Dari Kecil Hingga Dewasa

Selama ini kata parenting sering kali disematkan kepada pengasuhan usia anak-anak atau remaja. Jarang sekali orang berdiskusi tentang parenting terhadap anak dewasa . Padahal tugas orang tua dalam mendidik dan mengawal anak-anaknya tetap melekat meskipun mereka sudah besar. Bahkan menjelang mereka memasuki masa pernikahan pun orang tua tetap memiliki kewajiban untuk mendidik dan membersamai. Mengasuh anak adalah tugas orang tua bagi anaknya mulai dari kecil hingga dewasa.

Tips Parenting Untuk Anak Dewasa

Dalam bukunya Parenting Your Adult Children, Ferlia Sari menyatakan bahwa ada sejumlah permasalahan yang biasanya akan menjadi sumber konflik. Konflik-konflik yang muncul tersebut bisa membuat masalah dalam hubungan anatara anak dan orang tua. Naah sebenarnya apa yang terjadi pada anak-anak saat mereka menjalani masa peralihan dari anak-anak, remaja hingga dewasa. 

Orang tua seyogyanya paham tentang perubahan ini. Dengan memahami perubahan yang terjadi, maka para orang tua akan memahami bagaimana peran mereka terhadap anaknya yang sudah dewasa tersebut.

Beberapa tips parenting untuk usia dewasa di bawah ini bisa membantu orang tua dalam menerapkan pola pengasuhan untuk anak-anaknya yang sudah besar.

1. Pahami Anak-Anak Dari Sudut Pandang Mereka

Saat anak beranjak dewasa mereka tumbuh bukan hanya fisiknya namun juga pemikirannya, cita-citanya, pandangan hidupnya dan lingkungan pertemanannya. Ayah dan ibu perlu membangun hubungan dengan anak tidak hanya sebagai orang tua dan anak namun juga hubungan sesama orang dewasa. Bagaimana caranya? Pahami perubahan mereka, kondisi psikologis anak-anak, apa saja yang sedang mereka cemaskan, pikirkan dan perubahan yang terjadi pada hidup mereka. 

Anak-anak memiliki hidupnya sendiri, bukan untuk mengisi apa yang belum orang tua raih kemudian cita-cita yang tidak sampai di orang tua dipaksakan ke anak untuk menggapainya. 

2. Memahami Bahwa Anak Dewasa Memiliki Masalah Sendiri

Orang tua yang memiliki anak dewasa hendaknya memahami bahwa anak-anaknya sudah tidak hidup di lingkungannya sendiri. Lingkungan anak dewasa sudah meluas hingga menyentuh lingkungan sosial. Masalah-masalah anak dewasa seperti memilih pasangan hidup, memasuki dunia kerja, tanggung jawab sebagai warga negara dan bergabung dengan kelompok sosial di masyarakat mau tidak mau akan memberikan masalah sendiri dalam hidup mereka. 

Orang tua pun seyogyanya paham bahwa anak dewasa akan mengalami masa Quarter Life Crisis.Dalam buku Parenting Your Adult Children ini menyebutkan bahwa ada 5 fase Quarter life Crisis yaitu: terjebak dalam berbagai pilihan dan tidak bisa memutuskan, kedua; ada dorongan kuat untuk keluar dari masalah tersebut, ketiga: membuat keputusan krusial, keempat: membangun hal baru dan kelima: sudah fokus pada hal-hal yang diyakininya.

Dalam menghadapi berbagai permasalahan anak dewasa para orang tua hendaknya belajar menjadi pengamat tentang bagaimana anak-anaknya merespon? Apa sikap yang ditampilkannya?  Orang tua tentu saja jangan ikut ikutan menjadi resah. Ayah ibu sebaiknya memberi kontribusi membantu anak melewati masa-masa ini. 

Orang tua memahami, mengerti dan menerima mereka sebagai manusia dewasa. Sehingga anak dewasa bisa melewati berbagai masalah dalam hidupnya. Orang tua jangan terlalu memberi banyak nasihat sebaliknya luangkan waktu untuk lebih banyak mendengar. Ada tiga kata kunci tips parenting untuk anak dewasa yaitu didengarkan, dimengerti dan didampingi. 

Meskipun sebenarnya tidak mudah juga orang tua untuk melewatinya karena biasanya saat mendampingi anak mengalami Quarter Life Crisisnya disaat yang bersamaan orang tua pun sedang mengalami masa Midlife Crisis

3. Orang Tua Menempatkan Diri Sebagai Sahabat

Seperti saya sudah bilang di awal bahwa anak dewasa itu tidak suka terlalu banyak dinasehati, tapi mereka lebih butuh untuk banyak didengarkan. Orang tua sebagai sahabat berarti mengambil jalan di sisinya, mendampingi dan memberi ruang dialog penuh makna. Orang tua memahami bahwa dunia anak sekarang berbeda, tidak sama lagi dengan dunia saat kita berada di usia mereka saat ini. Zaman sudah berubah, termasuk lingkungan sosial dan budaya. 

Sebagai sahabat, maka orang tua memahami bahwa mereka memiliki batas privasi, maka membuat kesepakatan dengan anak dewasa menjadi penting. Saat anak dewasa belum mau bercerita jangan memaksa anak untuk bercerita tapi cari cara agar anak mau bercerita kepada orang tua. Orang tua dan anak dapat berbagi cerita. 

Saya sendiri suka bertukar cerita dengan anak-anak tentang kehidupan dan hal-hal yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Sebagai sahabat anak dewasa sesekali ajak anak berkegiatan bersama. Saya suka mengajak anak-anak kemping saat liburan. Sehingga bisa meningkatkan bonding orang tua dan anak.

Sahabat itu berarti saling mengingatkan. Maka jangan sungkan dan ragu saat  anak dewasa melakukan kekeliruan maka orang tua mengingatkan mereka. Tentu saja dengan cara yang baik dan bisa diterima oleh mereka.

4. Orang Tua Sebagai Mentor

Orang tua sebagai mentor berarti hadir sebagai pembimbing, teman diskusi, dan pendukung, bukan lagi sosok yang mengatur setiap langkah anak. Dalam peran orang tua sebagai mentor maka orang tua perlu menerapkan aturan dan batasan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. 

Penerapan aturan dalam keluarga dilakukan dengan tegas dan disiplin tapi tidak boleh ada kekerasan di dalamnya. Artinya orang tua harus menyampaikannya secara baik.. Contoh aturan dalam keluarga adalah tidak meminum minuman keras, dilarang mencuri 

Peran orang tua sebagai mentor juga berarti membagi pengalaman hidup kepada anak dewasa. Begitu pula dengan pengetahuan dan kebijaksanaan. Pengalaman hidup bermanfaat untuk memberi pelajaran baik dalam hal kebaikan maupun dalam kesalahan. Orang tua memberi nasihat saat mereka sedang siap menerimanya. Beri anak dewasa tanggung jawab agar mereka bisa belajar menyelesaikan masalah

5. Orang Tua Sebagai Coach

Tips parenting untuk usia dewasa selanjutnya adalah menjadi coach buat anak-anaknya. Kunci dalam posisi orang tua sebagai coach ini adalah adanya aspek kesetaraan. Maksudnya gimana sih? Jadi selama orang tua masih menganggap bahwa anaknya itu adalah anak kecil yang masih harus dibantu segala sesuatunya, masih harus terus diberi nasehat dan bimbingan maka konsep coaching belum bisa diterapkan. Anak dewasa membutuhkan teman dialog dan butuh kepercayaan bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah sendiri dan bisa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Maka saat sudah tercipta kesetaraan akan tercipta dialog antara orang tua dan anak dewasa. 

7. Membangun Percakapan Bermakna

Saat orang tua sudah mampu membangun percakapan bermakna maka orang tua sudah bisa membangun ikatan dengan anak dewasa melalui interaksi dan dialog sehari-hari. Percakapan bermakna adalah kemampuan orang tua untuk hadir utuh untuk anak dewasa saat berdialog, bertukar pikiran, mendengarkan, memahami keluhan dan memberi kepercayaan terhadap mereka untuk bertanggung jawab. 

Ada tiga prinsip dalam membangun percakapan bermakna, yaitu: pertama: dahulukan belas kasih jangan mendahulukan ego. Kedua memberi nasihat dan arahan hanya saat diizinkan. Ketiga membangun percakapan yang berorientasi ke masa depan dibandingkan dengan percakapan yang fokus pada masa kini dan masa lalu.Tiga prinsip ini dibangun oleh orang tua yaa. 

Ada lima keterampilan kunci yang dibutuhkan oleh orang tua saat hendak membangun percakapan bermakna, yaitu: pertama : membangun keterhubungan dan rasa percaya. Kedua: mendengarkan dengan empati. Ketiga: mengajukan pertanyaan eksploratif. Keempat: berbagi pendapat, pemikiran dan perasaan dan kelima adalah menyelesaikan konflik dengan kolaboratif.

Penutup

Buku Parenting Your Adult Children bagus sekali untuk dijadikan panduan bagi orang tua dalam mendampingi anak-anak yang sudah memasuki usia dewasa. Disertai dengan contoh-contoh kasus dan penjelasan rinci dalam setiap bagiannya. Penulis adalah seorang psikolog jadi memang ilmu dan pengalamannya sebagai praktisi dalam kesehariannya menjadikan buku ini sangaat membantu orang tua untuk mempraktikannya dalam keseharian. 

Recommended Articles

42 Comments

  1. artikel ini ngena banget! Nggak cuma kasih tips, tapi bikin kita orang tua paham banget bahwa saat anak sudah dewasa, peran kita berubah jadi teman ngobrol, mentor, dan pendengar setia. Keren, inspirasinya realistis dan mudah dipraktikkan di kehidupan sehari-hari

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      Iya kaak, insya Allah bisa dipraktekkan.

  2. artikel yang sangat menarik karena jarang dibahas untuk parenting anak dewasa. semoga bermanfaat juga bagi semua pembaca, terimakasih sudah berbagi ya kak 😀

  3. Memang perenting itu seperti bangunan yaa, ka..
    Kalau uda oke semasa kecilnya, nge-bonding lagi saat masa remaja uda tinggal menumpuk bangunan yang uda ada.
    Kalau belum ada, ini yang PR banget..
    Semoga Allah mudahkan “ngobrol” ama anak-anak agar sama-sama dilembutkan hatinya dan belajarnya bisa melalui buku “Parenting Your Adult Children”.

    Btw, judulnya dalam bahasa inggris, aku pikir buku terjemahan, ka..
    Ternyata engga yaah.. alhamdulillah…

  4. Tulisannya benar-benar menjadi reminder buat para orangtua. Ternyata mendampingi anak dewasa butuh lebih banyak kehadiran dan kesabaran ya. Terima kasih sudah mengingatkan dengan jujur mba

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      sama sama mbaa Ulfah

  5. Tantangan menjadi berbeda saat anak-anak mulai beranjak remaja apalagi dewasa..
    Pasti sudah punya jalan cerita hidup yang ga lagi sama dengan kita, tapi yang pasti orangtua tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi anaknya

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      iyaap betul banget mba, sampai kapanpun orang tua akan tetap menjadi orang tua meski anak sudah dewasa

  6. saya harus punya bukunya nih, mengingat bentar lagi anak saya masuk usia remaja yang pasti banyak kejutannya, hehe. gak mudah jadi orang tua ternyata ya, banyak fase yang harus dilalaui ketika membersamai perkembangan anak, mulai daru golden age, remaja hingga menuju dewasa.

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      bukunya bagus banget mba buat panduan ortu yang anaknya sudah dewasa

  7. ini insightful banget! Kunci parenting untuk anak dewasa memang ada pada seni melepaskan. Komunikasi terbuka, rasa hormat, dan dukungan tanpa batas adalah esensinya. Salut dengan tipsnya, Kak!

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      makasiih kaak resa

  8. Tipsnya sangat bijak, Mbak Heni! Kadang kita fokus ke pola asuh anak kecil, padahal parenting itu berlanjut sampai anak dewasa. Ulasannya hangat dan penuh insight.

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      terima kasih mba Andiyani

  9. Tulisannya relate banget sama yang aku hadapi sekarang dimna anak2 dah remaja semua dan aku sbgai ibunya harus pandai2 menempatkan diri supaya anak bisa cerita apapun dan aku ttp bsa tau apa aja yang mereka lakukan

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      sebentar lagi menuju dewasa ya mba anak-anak kita

  10. Menarik banget bukunya. Jadi inget dulu pas milih jurusan atau sekolah. Ada pastilah yang diperdebatkan. Masa anak dewasa, remaja itu banyak hal yang harus dibahas. Oke, coba nanti cari bukunya deh buat belajar

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      naah, ini konflik tersering saat anak sudah dewasa….

  11. Setuju banget mbak Heniii.. Ketika anak² mulai dewasa seringkali banyak orang tua yang geregetan ingin tetap mengendalikan anak²nya. Padahal anak dewasa sudah waktunya pelan² pengendalian orang tua itu lebih longgar. Khawatirnya malah bikin anak berontak.

    Beberapa kasus orang dewasa yang lari dari rumah seperti yang kulihat itu, malah punya kecenderungan orang tuanya terlalu menyetir anak hingga tak sedikit anak nggak suka samaoranf tuanya. 🥹

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      iyaa mba Dinda,,,kasusnya banyak banget ini di kehidupan nyata

  12. Bagi orang tua sedewasa apapun anaknya, tetap saja merasa bahwa segalanya masih harus diperhatikan
    Hanya mungkin cara menempatkan diri itu yang harus diperhatikan, supaya keberadaan anak dan orang tua tetap terjalin komunikasi nya tanpa merasa tertekan, malu atau jal lainnya ya

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      iya teh betul banget,. Saya aja yang udah emak-emak begini di depan orang tua mah tetap jadi anak

  13. terimakasih sharingnya kak.. menurut ku, parenting adalah suatu pelajaran yg tak oernah ada selesainya ya.. terus berkembsng dan pdnerapannya sesuai kebutuhan / kondisi masing2 kelg.

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      sama sama kaak

  14. Buku yang penuh inspirasi. Memang ya soal parenting dan menjadi orang tua ini pembelajaran seumur hidup. Dengan banyak baca buku, setidaknya menambah referensi dan insight bagi para orangtua bagaimana menemani tumbuh kembang anaknya.

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      iya kaak betul banget

  15. Seringkali orang tua lupa bahwa hubungan dengan anak dewasa harus bergeser dari “mengatur” menjadi “mendukung.” Tips tentang mendengarkan secara aktif dan menghargai batasan sangat penting. Saya pribadi merasa tantangan terbesar adalah menahan diri untuk tidak memberi solusi, tapi justru menjadi tempat aman bagi mereka untuk curhat.

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      naah itu dia intinya mbaa,,,keterampilan untuk bisa mendengarkan

  16. Ternyata setelah anak dewasa orang tua juga tetap perlu belajar ilmu parenting yaa. Tapi memang sih namanya anak itu mau umur berapapun tetaplah seorang anak yang di saat lelahnya memerlukan pelukan hangat ibunya

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      betul mbak Antung, sama kaya saya juga tetap dianggap anak meskipun sudah emak-emak gini

  17. wah makasi sekali saran dan tipsnya mba. kebetulan anakku memang masih toddler jadi masih mudah sekali diarahkan, tapi kalo beranjak remaja ternyata punya tantangan tersendiri ya

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      sama sama mbaa,,,iyaa betul sudah besar beda lagi tantangannya

  18. Aku setuju banget kalau orang tua seharusnya “memahami dari sudut pandang kita”. Ketika sudah dewasa, kita punya pikiran, cita-cita, dan mimpi sendiri. Kalau ortu paham bahwa kita bisa berbeda — nggak harus “jadinya dokter karena enak & masa depan cerah” — itu bakal bikin kita lebih nyaman dan dihargai. Tentu dengan konsekuensi dari kedua belah pihak.

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      iyaa harus bisa saling mengerti dan saling memahami

  19. Mengasuh anak dewasa, sepatutnya sebagai orang tua banyak belajar ya agar bisa membersamai mereka. Memahamincara berpikirnya, memahami dunia mereka. Kalau gak banyak belajar ya repot bisa bisa mereka menarik diri dan membeci orang tua nya

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      Iya akan lebih susah lagi komunikasinya nanti kalau sampai menarik diri apalagi sampai beci sama ortunya

  20. Sepertinya buku ini juga wajib dibaca oleh calon orang tua atau orang tua yang anaknya masih bayi. Testimoni saya sebagai anak dewasa (memang bukan remaja lagi), emang orang tua itu sering menjadikan anak sebagai harapan untuk sesuatu yang pengen mereka raih, tanpa memahami mental atau kemampuan anak. Contoh, saya tiba2 disuruh jadi dosen, padahal nggak ada minat dan merasa nggak berbakat. Sepupu saya juga saat sma disuruh untuk ambil jurusan kedokteran, padahal dia nggak suka. Sebaiknya orang tua sudah bisa melihat skill anak dari kecil, jangan pas dewasa disuruh jadi ini itu.

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      naah ada lagi kasus nyata di keluarga ya mba

  21. Betul itu semua. Harus juga mengerti kemauan sang anak. Karena setiap anak berbeda beda. Ada yang bisa diatur ada juga yg gak bisa….

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      iyaa setiap anak itu berbeda meskipun lahir dari rahim yang sama

  22. Ini masuk ke ranah yang jarang dibahas: parenting setelah anak tumbuh. Banyak orang tua mikir tugas selesai setelah anak besar, padahal pendampingan emosional tetap penting

    1. Heni Hikmayani Fauzia
      Heni Hikmayani Fauzia

      sangat sangat penting mbaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *