Ketika Masa Kecil Diceritakan dengan Jujur: Review Buku Na Willa 

Review buku Na Willa

Setelah menonton film Na Wila saat liburan lebaran kemarin saya jadi penasaran deh untuk membaca bukunya. Baiklah saya pun akhirnya hunting buku ini di gramedia sekalian untuk koleksi perpustakaan. Setelah order di toko buku akhirnya buku yang saya nanti sampai juga.

Buku Na Willa terhitung tipis saja ada seratus sepuluh halaman.  Kisah anak ini ditulis oleh Reda Gaudiamo dengan gambar ilustrasi oleh Cecillia Hidayat. Na Willa diterbitkan oleh Penerbit Post Press tahun 2018. Dalam perjalanannya fiksi yang satu ini mendapat respon baik di pasaran terbukti hingga bulan Maret 2026 lalu sudah cetak ulang ketigabelas. 

Berikut adalah data detail buku Na Willa:

Judul buku : Na Willa

Pengarang: Reda Gaudiamo

Ilustrasi gambar: Cecillia Hidayat

Editor: Maesy Ang dan Teddy W.Kusuma

Deskripsi fisik: xvi;115hal;19cm

Penerbit: POST Press

Tempat terbit: Jakarta

ISBN: 9786026030429

Saat saya membaca lembar demi lembar cerita Na Willa ingatan saya langsung terbang saat menonton filmnya. Biasanya saya membaca dulu bukunya baru deh nonton filmnya. Akan tetapi sekarang malah jadi terbalik, saya menonton filmnya dulu baru deh bukunya. Jujur saya baru mengenal buku ini yaa belum lama-lama amat. Seiring berita tentang film nya saya jadi penasaran sama bukunya.

Review buku Na Willa di dalamnya tidak ada yang aneh-aneh. Semua seperti cerita anak dalam keseharian. Dari tiga puluh tiga bab yang ada dalam buku Na Willa kesatu ini, semua kisahnya bercerita tentang teman-teman Na Willa, kegiatan sehari-harinya, bermain seperti anak-anak pada umumnya tapi ada juga kisah-kisah gokil yang Na Willa alami.

Pada bab-bab awal Reda gaudiamo bercerita tentang teman-teman dan orang-orang terdekat Na Willa. Semua dibahas lengkap mulai dari farida, Gus Salim, Dul, Bud, Wano,Pak dan Mak. Na Willa paling tidak suka dipanggil Wong Cino. Pada buku Na Willa ada dua kejadian yang berkaitan dengan panggilan Wong Cino ini hingga menimbulkan keributan. 

Kisah-kisah dalam setiap bab di buku Na Willa ini lebih banyak nya kisah yang langsung habis, tidak bersambung ke bab selanjutnya.Meski ada juga beberapa yang bersambung karena kisahnya agak panjang. Seperti cerita tentang radio mendapat dua bab sendiri, kemudian cerita tentang Kak tin yang jadi pengantin. 

Kisah yang paling seru adalah saat Na Willa masuk bersekolah dan mendapat kejadian tidak menyenangkan hingga akhirnya mencari sekolah baru yang lebih mengasyikkan dan membuat Na Willa bahagia.

Kalau boleh saya bilang, diantara banyak buku yang diangkat ke layar lebar maka film Na Willa ini paling banyak kesamaannya dengan cerita di buku. Hanya ada beberapa perbedaan cerita tapi itu tidak mengubah kisah di dalam buku deh kalau menurut saya.

Seperti saat Na Willa meminta izin pada Mak untuk ikut mengaji bersama Farida. Lalu Na Willa mengambil kain putih untuk ikut salat bersama teman-temannya di masjid. Naah, kalau di film kan Na Willa mengambil kainnya tuh dari jemuran yaa. Sementara di buku , digambarkan bahwa Na Willa mengambil kain putih berupa sprei yang sudah terpasang di tempat tidur.

Terus ada lagi, adegan di film Na Willa berlari sambil menangis karena dimarahi oleh bu Guru Tini, di film Bu Tini tidak mengikuti Na Willa. Tapi kalau di buku diceritakan Bu Tini berlari mengejar Na Willa sambil berteriak memanggilnya. 

Terus ada lagi nih, saat melihat pengantin, kalau di film kan diperlihatkan Mbak Tin hanya menangis tersedu, sementara di buku lebih seru lho penggambarannya. Mbak Tin meraung, menangis, menendang nendang, merusak tempat tidur yang bertabur bunga. Seruu deh pokoknya hehehe.

Jadi, kalau menurut saya sih kamu tidak cukup lho dengan hanya menonton filmnya, tapi kamu juga harus membaca bukunya. Bukunya tuh termasuk buku tipis kok bisa tamat dalam sekali duduk. Sambil minum kopi dan makan cemilan kesukaan saya menghabiskan buku Na Willa dalam satu jam saja. Lama yaaa, seratus halaman masa satu jam, yaa soalnya sambil nonton sinetron di aplikasi film hehehe. 

Kalau menurut saya saat membaca dan review Na Willa bagus untuk bahan bacaan anak-anak usia SD, SMP hingga SMA. Orang dewasa dan ibu-ibu kaya saya juga bisa koq membaca buku ini. Hanya saja kalau menurut saya ada beberapa bagian yang harus didampingi orang tua dan anak-anak sebaiknya diberi pemahaman. Kenapa? Karena ada beberapa bagian di buku ini yang menceritakan kalau Mak suka mencubit Na Willa kalau marah. 

Apapun alasannya kalau menurut saya mencubit anak itu tidak baik karena memberikan ketakutan dan traumatik. Saya tuh gregetan gitu lho,,,,kan harusnya bisa yaa kalau Mak marah tuh tangannya sambil diem aja gak usah mencubit gitu. Tapi ini hanya mewakili perasaan dan pandangan saya saja. 

Terus, buku Na Willa ini cara penulisan kisah dalam bukunya tuh mirip bait-bait puisi, tidak seperti paragraf dalam buku pada umumnya. Kalimat-kalimatnya itu kan jadi lebih pendek gitu deh, makanya saya bisa menuntaskan buku Na Willa jadi lebih cepat. 

Saya mengacungkan jempol pada pembuat gambar di dalam buku Na Willa. Gambarnya tuh mewakili anak-anak banget deh dan pas banget mewakili gambaran seperti cerita di dalam buku. Seperti gambar pengantin Mbak Tini dan suaminya hehehe, itu saya ketawa-ketawa melihatnya soalnya lucu banget. Atau ada gambar ilustrasi lainnya seperti gambar Bu Tini berhadapan dengan Na Willa, ilustrasi gambarnya sangat pas. Menurut saya , jika ada orang tua membacakan buku Na Willa maka gambar ilustrasi di buku bisa menjadi tambahan penguat saat bercerita kepada anak

Kisah Na Willa dalam buku bersampul merah memberi beberapa pesan baik untuk siapapun yang membacanya, yaitu:

  1. Orang tua mengenalkan buku kepada anak sedari kecil Na Willa sudah bisa membaca dan menulis meskipun belum sekolah karena Mak mengajarkan membaca dan menulis. Mak membiasakan membaca buku pada Na Willa baik itu story telling atau pun memberi kesempatan Na Willa membaca bukunya sendiri. 
  2. Penting nya menanamkan nilai kejujuran dan komitmen kepada anak. Hal ini tercermin pada kisah Na Willa yang membongkar radio padahal sudah berjanji pada Mak bahwa Na Willa tidak akan membongkarnya. 
  3. Pertemanan dan persahabatan yang dalam dan bermakna meskipun berbeda latar belakang keluarga dan agama tapi mereka sangat akrab. Bahkan saat Dul tertabrak kereta dan kehilangan kakinya, Na Willa dan teman-temannya selalu menghiburnya

Buku Na Willa benar-benar mencerminkan kehidupan dunia anak-anak secara real dan apa adanya. Keluguan dan kepolosan menanggapi berbagai kisah kehidupan di sekelilingnya dengan cara khas anak-anak sangat menyentuh hati.Kadang bikin saya terharu tapi tidak jarang juga bikin saya ngakak-ngakak membacanya. Terima kasih buat Reda Gaudiamo yang sudah membuat buku sebagus ini. Next saya akan membaca dua buku series Na Willa yang lainnya.

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *