Dalam sebuah teori psikologi , saat seseorang memasuki usia lima puluh tahun maka fase Midlife mulai menyapanya. Jadi menurut teori perkembangan psikologi rentang usia di fase midlife ini adalah antara 40 hingga 60 atau 65 tahun. Karakteristik kepribadian di fase midlife sudah semakin dewasa, dan menghindari kericuhan yang njlimet. Dan circle pertemanan di fase midlife pun tentunya mengikuti kepribadian yang muncul pada fase ini.
Karakteristik Kepribadian di Fase Midlife
Fase midlife adalah waktunya untuk bersiap pulang. Bukan mendahului takdir yaa, tapi memang di usia ini sudah seharusnya menjadi waktu untuk evaluasi diri, sudah sejauh mana saya bisa memanfaatkan waktu untuk hal-hal positif. Masa fase midlife adalah waktunya saya introspeksi diri.
Melakukan evaluasi dan menghadapi berbagai kenyataan bahwa tubuh saya tidak sekuat dulu. Fase yang lebih mementingkan kualitas dalam pertemanan dan sudah bukan lagi mengedepankan masalah kuantitas. Ada beberapa karakteristik kepribadian di fase Midlife diantaranya adalah:
Selektif dalam memilih
Kalau saya sih iyaa yaa, membenarkan dengan karakteristik yang satu ini. Memilih dalam pertemanan, dalam kegiatan dan dalam hal apapun. Sepenting apa jika saya ikut kegiatan tersebut? Apakah orang tersebut penting dan memberi manfaat jika saya dekat dan berinteraksi dengannya?
Bukan berarti pilih-pilih dan sok jual mahal namun lebih ke tidak sekedar ngikut-ngikut saja, ikut sebuah kegiatan karena ikut-ikutan teman, atau bergaul dengan seseorang karena melihat yang lain juga berteman dengannya. Tanpa mempertimbangkan bagaimana dampaknya terhadap diri saya.
Jika sekedar ngikut-ngikut saja bagaimana jika ternyata orang tersebut jenis manusia toxic, atau bagaimana jika kegiatan yang kita ikuti ternyata hanya buang-buang waktu.
Menjauhi drama
Di usia midlife seperti saya saat ini, jujur deh males banget kalau masih harus mengurusi berbagai drama dan keruwetan dalam berbagai hal. Bukan dalam arti menghindari masalah dalam hal-hal formal seperti pekerjaan dan hal resmi lainnya ya, kalau itu sih yaa harus saya selesaikan dong.
Menjauhi drama yang saya maksud adalah malas melayani orang yang rese dan hobinya mengajak perang hehehe. Sudahlaah kalau orang seperti ini tidak usah dilayani, biarkan saja. Hubungan yang ribut, gosip, kompetisi tidak sehat, orang julid atau toxic cepat terasa melelahkan lahir batin.
Jadi buat apa mengurusi hal-hal seperti ini. Sudahlah tinggalkan saja. Kesehatan mental dan ketenangan batin saya jauh lebih penting daripada melayani hal-hal seperti itu.
Lebih realistis dan praktis
Perjalanan hidup yang sudah merasakan asam garam kehidupan membuat seseorang lebih hati-hati dalam mengambil keputusan. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya. Saat ada hal yang mengharuskan saya memilih dalam memutuskan sesuatu, pengambilan keputusan lebih matang, mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.
Saat hendak mengambil keputusan hampir tidak pernah hanya ada satu opsi, saya selalu memiliki beberapa opsi plan A, plan B, plan C dan selanjutnya. Hal ini saya lakukan agar tidak salah memilih dan keputusan yang diambil adalah keputusan tepat dan realistis.
Hindari mengambil keputusan karena FOMO,,,namun sebaiknya membumi dan realistis, jangan dibuat rumit namun sebisa mungkin praktis dan efisien saja.
Prioritas hidup berubah
Naah, ini nih yang penting bahwa di usia fase midlife ini prioritas hidup berubah. Saat saya diajak traveling dan jalan-jalan oleh teman-teman di kerjaan yang notabene usianya jauh dibawah saya maka tidak semua ajakan tersebut saya ikuti. Prioritas hidup saya berbeda dengan mereka yang masih muda, banyak hal-hal yang dalam kehidupan teman-teman muda saya mungkin belum penting tapi buat saya itu penting.
Buat saya, kesehatan, keluarga, ketenangan, keamanan finansial, dan kualitas hidup jadi lebih utama. Saat teman-teman muda saya kulineran dengan makanan yang sudah harus saya hindari atau batasi yaaa tentu saja saya tidak ikut serta. Begitulah di fase midlife ini, prioritas hidup berubah, tidak semua hal bisa saya ikuti dan lakukan begitu saja.
Jangan haus validasi
Umur sudah memasuki masa Jelita, buat apa sih masih ingin pamer dan terlihat cetar membahana di hadapan orang lain? Tapi ini menurut pandangan saya yaa, mungkin pandangan kamu berbeda. Bagi saya, tidak penting orang harus tahu kalau saya punya baju baru, tas baru, atau barang-barang lainnya. Bagi saya itu sudah bukan masanya.
Apa yang saya miliki cukup saya dan keluarga terdekat seperti suami dan anak-anak saja yang tahu. Justru yang saya tunjukkan pada orang lain adalah karakter baik dan manner kita. Bagaimana cara menghargai orang, sopan terhadap orang lain. Perbanyak menanam kebaikan pada lingkungan sekitar saya.
Circle pertemanan mengecil
Pada fase usia midlife rasanya circle pertemanan mengecil dalam arti tidak terlalu banyak. Circle sedikit saja tapi ikatannya cukup mendalam. Circle pertemanan itu beda yaa dengan kenalan. Saya kan suka jualan juga nih, jadi kenalan sih banyaak dan mitra-mitra di bisnis HNI saya juga kan mereka itu kenalan saya.
Namun, pada siapa saya ngobrol intim dan mungkin bisa jadi curhat juga yaa tentu saja harus memilih. Naah, teman dekat inilah yang menjadi circle pertemanan. Jadi circle pertemanan sedikit bukan berarti kenalan saya sedikit juga yaa.
Circle Pertemanan Pada Fase Midlife
Naah, sekarang saya akan membahas tentang circle pertemanan pada masa Midlife. Bagaimana yaa memilih lingkarang pertemanan di usia menjelang setengah abad? Saya sih jujur lebih memilih relasi yang aman, suportif, dan dewasa; tidak butuh banyak teman.
Di fase midlife, circle pertemanan yang pas biasanya bertemu di tempat yang ritmenya stabil, minatnya jelas, dan interaksinya berulang (bukan tempat yang sekali ketemu lalu hilang). Ini beberapa “ladang” yang paling sering berhasil. Ini beberapa circle pertemanan saya, jujur gak banyak sangat sangat tidak banyak.
Circle pertemanan di tempat kerja
Buat saya yang masih aktif dinas bekerja, circle pertemanan di tempat kerja adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Saya memilikinya karena namanya juga satu pekerjaan kaan, ya pasti ada lah satu atau dua orang yang masuk ke dalam circle.
Namun, meski begitu sah-sah saja sih walaupun kamu misalnya tidak memiliki circle pertemanan di tempat kerja ini, yaa misal kamu hanya memosisikan mereka benar-benar sebagai rekan kerja saja dan hubungan secara profesional. Kamu dan teman-teman di kantor tidak terlibat pembicaraan dan obrolan yang melihatkan hati serta emosi.
Circle pengajian
Saya suka circle pertemanan di pengajian ini karena minim gosip dan kegiatan khusus yang positif. Kalau sudah di masjid semuanya fokus mengaji dan mengikuti kajian saja. Circle pengajian kalau saya perhatikan hubungannya lebih mendalam. Meskipun saya tidak begitu aktif di dalamnya karena waktu pengajiannya seringkali bentrok dengan jam kerja tapi suka memperhatikan.
Jika kebetulan sedang libur pasti saya ikut. Senangnya di lingkaran pertemanan ibu-ibu pengajian ini mereka banyak kegiatannya. Setiap ada hari besar islam pasti ada pengajian dan biasanya diakhiri dengan botram atau makan bersama. Naah ini nih yang seru hehehe,,,,makan bersama.
Circle ibu-ibu kompleks
Tinggal di kompleks perumahan yaa pastilah harus bergaul yaa dengan tetangga dan ibu-ibu sekitaran. Di perumahan itu ada kegiatan pengajian, kalau bulan ramadan ada salat tarawih.
Ada satu event tahunan rutin yang diadakan di circle pertemanan ibu-ibu kompleks ini yaitu kegiatan berbagi jadwal menyiapkan makanan takjil di masjid. Ibu-ibu kompleks ini kan ada grup whatsapp yaa, jadi kita nge list tuh dari tanggal 1 hingga akhir ramadan, jadwal mengisi konsumsi takjil di masjid.
Sebisa mungkin kalau ada undangan baik itu undangan pengajian, pernikahan atau syukuran yaa hadir. Apalagi jika ada yang meninggal itu sih wajib untuk takziah.
Jalan pagi adalah salah satu kegiatan yang bisa mendekatkan pertemanan ibu-ibu kompleks. Jalan pagi bareng-bareng sambil ngobrol ngalor ngidul. Seru saja sih melihatnya, saya pun terkadang ikut jalan, meski tidak sering. Begitulah, mungkin kalau saya sudah pensiun bisa full aktif di kegiatan circle ibu-ibu kompleks ini, seru juga soalnya.
Circle rumah
Naah, kalau circle yang satu ini adalah circle terdekat dan paling intim. Circle rumah adalah suami dan anak-anak. Mereka adalah tempat paling nyaman bagi saya bercerita dan berbagi kisah. Terutama suami yaa, dijamin semua rahasia saya amaan bersamanya karena saat saya mengeluarkan ribuan stok kata-kata tidak jarang dianya sih sudah tertidur pulas wkwkwkwk. Ah dasar, tapi sepertinya banyak deh yang memiliki pengalaman seperti saya ini.
Suka Duka Ada Di Circle Pertemanan
Yaa, namanya juga manusia isi kepalanya kan gak sama yaa. Jadi suka duka ada di circle pertemanan itu banyak sekali deh. Sukanya yaa saya bisa memiliki teman , memiliki tempat untuk berbagi dan saling mengisi serta memberi support satu sama lain. Selain itu juga jadi memiliki kegiatan bermanfaat. Catat yaa kegiatan bermanfaat, kalau ada hal-hal yang membawa saya ke arah negatif, yaa mundur teratur saja.
Kalau hal tidak menyenangkan dari sebuah circle pertemanan itu tadi seperti yang saya bilangin di awal bahwa isi kepala manusia tidak sama jadi pasti ada saja perbedaan-perbedaan pendapat muncul. Belum lagi karakter manusia itu kan berbeda-beda yaa, jadi ada yang nyebelin ada yang suka merusuh ada yang suka ngegosip ada yang cari aman aja waah macem-macem deh.
Naah, kalau bertemu dengan yang tidak enak begini ya sudah nikmati saja, mundur teratur kemudian beri jarak saja kapan harus mendekat kapan saatnya menjauh.
Manfaat Circle Pertemanan di Fase Midlife
Saya sih merasa memiliki circle pertemanan di fase midlife itu banyak sekali manfaatnya. Saya pribadi merasa bisa hidup lebih tenang jauh dari drama ini itu. Saat pilihan teman lebih selektif, saya merasa lebih terlindungi dari relasi yang menguras: gosip, kompetisi, drama, atau manipulasi.
Manfaat circle pertemanan pada usia paruh baya ini adalah bisa memberi batasan yang sehat. Circle di midlife idealnya tidak menuntut “harus selalu ada”. Justru jadi tempat latihan komunikasi yang dewasa: jujur, jelas, saling menghormati waktu dan energi. Intinya karena sudah dewasa dan menuju tua mungkin yaa jadi orang-orangnya lebih bijaksana.
Terakhir manfaat dari circle pertemanan di fase midlife adalah membantu menjaga kesehatan mental. Bagaimana tidak? Rata-rata teman di usia midlife ini adalah teman yang aman dan suportif membantu menurunkan stres, rasa sepi, dan beban pikiran. Kamu punya ruang untuk cerita tanpa dihakimi. Asyik kan…
Penutup
Circle pertemanan di fase midlife adalah salah satu yang penting untuk diperhatikan. Masa midlife sebagai bagian dari salah satu tahapan perkembangan psikologi manusia yang pasti semua manusia akan melewatinya jika panjang umur adalah masa untuk memilih teman lebih selektif lagi. Bagaimana circle pertemanan yang kamu miliki? Yuk share komentar kamu.

real, aku lagi menjauhi drama karena butuh ketenangan